Judul
HAMENGKUBUWONO I; Tata Tentreming Nagari
Penulis
Muhammad Agung Bramantya
Ukuran
14 cm x 20 cm
Jumlah Halaman
470
Blurb/Sinopsis
Di tanah Jawa yang dilanda perpecahan, seorang pangeran bangkit dari reruntuhan Mataram, menghunus tekad sekuat baja dan membawa panji keadilan di bawah naungan langit yang kelam. Dialah Pangeran Mangkubumi, sosok yang kelak dikenang sebagai Hamengkubuwono I, arsitek perdamaian, pembangun peradaban, dan pendiri Kesultanan Yogyakarta. Beliau bergelar: “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Satunggal ing Ngayogyakarta Hadiningrat”
Dari lorong-lorong sunyi Keraton Kartasura hingga medan perang yang bergemuruh, dari lantunan doa di Masjid Gedhe Kauman hingga ketukan gamelan yang mengalun di Pendapa Agung, novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemimpin yang tidak hanya bertempur dengan pedang, tetapi juga dengan kebijaksanaan, keimanan, dan kecintaan pada seni dan budaya.
Di tepi Kali Progo, di bawah bayangan beringin tua, ia berdoa. “Jika perang adalah jalanku menuju keadilan, biarlah aku menapakinya dengan hati yang teguh. Jika damai adalah kehendak-Nya, biarlah aku merangkulnya tanpa ragu.”
Sebagai sultan pertama Yogyakarta, Hamengkubuwono I tidak hanya menegakkan tata tentreming nagari—tatanan yang damai dan adil—tetapi juga meletakkan dasar bagi perkembangan Islam, seni, dan budaya di tanah Jawa. Masjid-masjid berdiri, wayang dan tarian berkembang, aksara dan sastra terus hidup dalam setiap serat batik yang diwariskan pada generasi berikutnya.
Dengan gaya bahasa yang liris dan penuh epos, Hamengkubuwono I: Tata Tentreming Nagari bukan sekadar novel sejarah—ini adalah kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan warisan abadi seorang raja yang menghidupkan kembali roh kejayaan Jawa dalam bingkai Islam dan budaya.
Sebuah kisah yang tidak hanya tertulis dalam sejarah, tetapi juga mengalir dalam nadi bangsa. Selamat membacanya!